Galau diantara IRT Sejati atau Karyawati

Siang ini baca sebuah artikel di medsos yang buat pikiran ini berputar – putar , jleb banget berasa tergampar setelahmembacanya.

Namaku Endah, aku seorang istri sekaligus seorang karyawati di salah satu perusahaan di jakarta. Aku sudah mulai bekerja dari tahun 2006 semenjak lulus sekolah smk . Dari awal kerja jaga wartel , kerja di pabrik , kerja di toko hingga kerja di kantoran kini.

Ditahun 2012 status ku berubah dari anak gadis menjadi seorang istri , berarti statusku bertambah jadi seorang istri sekaligus karyawati. 

Sebenarnya dari awal nikah pengennya hanya berstatus istri saja , yang bertugas mengurus suami dan rumah tangga . Tapi apa daya disaat itu kebutuhan yang menuntut aku harus bekerja. Dan ada yang berucap juga “kalo belum punya anak, ya kerja dulu aja”

Menjadi seorang istri sekaligus karyawati ada  Positif dan Negatif nya . Aku akan jabarkan Positif nya dahulu berdasarkan apa yg aku rasakan:

 1).punya gaji sendiri 

Artinya punya pendapatan sendiri selain dari gaji yg diberikan suami. Bisa beli ini itu tanpa minta uang sama suami. Dan selalu berpikiran Gaji suami adalah gaji istri tapi gaji istri ya gaji istri hahahaa… tapi itulah yg suamiku ucapkan , beliau tidak pernah minta uang setiap aku gajian . Nanya gajianku berapa pun beliau gak pernah , selalu aku yg infokan berapa gajiku.

2). Banyak teman dilingkungan kerja

Saya menikah sdh berjalan 4tahun tapi ALLAH belum memberikan kepercayaan kepada kami soal anak. Saya hanya tinggal berdua saja dirumah, beda dengan lingkungan kerja yang banyak orang . Bisa ketawa ketiwi , bergosip , hangout bareng , nonton bareng dan kerja bareng.

3). Punya banyak relasi

Maksud dari relasi disini adalah orang – orang dari dunia luar lingkungan kerja kita.

Sedangkan negatif nya menjadi seorang isri sekaligus karyawati yang aku rasa :

1). Pikiran bercabang antara rumah dan kantor

Aku termasuk orang dalam katagori tidak bisa tidur kalo ada masalah maksudnya ada pekerjaan kantor yg berantakan pasti terbawa ke rumah , mood pun jadi ikutan kacau . Kontrol emosi pun jadi sulit. Pokoknya perlu ketenangan dalam berpikir.

2). Pekerjaan rumah terlantar

Sebenarnya tergantung dari orangnya masing-masing , disini gak bisa disalahkan pekerjaan penyebab rumah berantakan. Aku akuin tipekal pemalas , aku tidak bisa membagi waktu antara pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah. Disaat libur kerja dipake untuk istirahat dengan alasan capee.  Tapi beruntungnya aku mempunyai suami yang mau membantu istrinya dalam pekerjaan rumah , beliau bilang dengan lembut kita kerjakan sama-sama. Tapi jujur dr hati yg paling dalam terasa sakit , terasa berontak. Urusan rumah ya tanggung jawab istri apapun alasannya. Ini lah alasan utama yg sering buat aku ingin ngajuin risegn dalam pekerjaan .

Rasa galau itu selalu ada setiap saat , apa yang harus aku pilih. Ada yang bilang nanti aja kalo sudah punya anak baru di rumah , emang cukup kalo gak kerja dengan gaji suami saja. Apalagi saat ini emang lagi banyak-banyaknya pengeluaran , kebutuhan yg selalu berjalan dan sebagainya.

Setiap tanya ke suami, pasti bilangnya “terserah kamu”… galau di antara 2 pilihan. 


-bersambung-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *